冬 の カレンダー
Jepang adalah sebuah negara kepulauan di
Asia Timur. Letaknya di ujung barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut
Jepang, dan bertetangga dengan Republik Rakyat Cina, Korea Utara, Korea
Selatan, dan Rusia. Pulau-pulau paling utara berada di Laut Okhotsk dan wilayah
paling selatan berupa kelompok pulau-pulau kecil di Laut Cina Timur, tepatnya
di sebelah selatan Okinawa yang bertetangga dengan Taiwan.
Jepang merupakan negara yang dijuluki
Negara Matahari Terbit dan Negeri Sakura. Dikatakan demikian karena di Jepang
mayoritas penduduknya beragama Shintou yang menyembah matahari sehingga disebut
Negara Matahari Terbit. Sedangkan julukan Negeri Sakura diberikan karena banyak
bunga sakura yang tumbuh di tanah Jepang. Bahkan untuk menyambut musim semi
(haru), orang Jepang mempunyai suatu tradisi yang biasa disebut hanami
(perayaan melihat bunga sakura) sebagai simbol kebahagiaan karena datangnya
musim semi.
Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa
setiap budaya di Jepang memiliki arti atau makna tersendiri. Berbagai budaya
tersebut juga dibedakan berdasarkan musim yang ada disana. Dalam makalah ini
penulis akan membahas mengenai beberapa hari penting yang berlangsung pada
musim dingin (fuyu), diantaranya:
Saimatsu, Ganjitsu, Setsubun, dan Ume Matsuri.
Saimatsu ( 歳末 )
Tanggal 28 Desember merupakan hari terakhir
para pegawai kantor masuk kerja, sebagai persiapan untuk membersihkan rumah
untuk mengakhiri tahun dan menyambut
tahun baru, yang biasanya disebut “Osouji”. Hidangan khusus akhir tahun disebut
kue nasi atau “Kagami Mochi” yang dicampur dengan sup yang bisa dipesan di
restoran.
Salah satu tradisi yang diadakan beberapa
perkumpulan organisasi di Jepang disebut “Bonenkai” yang berarti “pesta untuk
melupakan tahun lama”. Untuk mensukseskan acara Bonenkai ini, biasanya satu
orang akan ditunjuk menjadi “Kanji” (koordinator) yang bertugas mengkoordinasi
acara, melakukan pemesanan tempat dan menghubungi orang-orang yang akan
berpartisipasi dalam acara tersebut. Biasanya jauh hari sebelumnya, beberapa
restoran ataupun hotel sudah penuh terpesan oleh beberapa kelompok yang ingin
merayakan Bonenkai.
Acara ini diawali dengan “Kanpai” atau
minum bersama yang kemudian dilanjutkan dengan makan-makan, berkaraoke, atau
minum-minum sampai mabuk hingga larut malam. Berusaha melupakan hal-hal yang
tidak menyenangkan selama menjalani kerja satu tahun sebelumnya.
Ganjitsu ( 元日 )
Tanggal 1 Januari disebut “Ganjitsu” yang
artinya “hari pertama”, sedangkan pagi hari 1 Januari disebut “Gantan” yang
artinya “pagi pertama”. Perayaan tahun baru ini sendiri berlangsung selama 3
hari berturut-turut yang disebut “Sanganichi”. Tahun baru adalah even tahunan
yang paling penting dan terperinci di Jepang.
kagami mochi
Sebelum tahun baru, biasanya dilakukan
kegiatan bersih-bersih rumah yang disebut “Osouji”. Setelah osouji selesai
dilakukan, barulah kemudian dipasang berbagai hiasan, diantaranya “Shimenawa”
yaitu hiasan yang digantung di depan rumah yang terbuat dari jerami yang
diplintir sedemikian rupa membentuk bulatan yang dipadu dengan daun cemara yang
kemudian dipasang di depan rumah. Hiasan lainnya yaitu “Kagami Mochi” yang dibuat
dengan cara menyusun dua buah mochi berbentuk bundar ditambah sebuah jeruk di atasnya sebagai
hiasan.
kadomatsu
Selain itu, biasanya di depan pintu rumah
akan terpasang hiasan “Kadomatsu”. Kadomatsu merupakan kombinasi dari pohon
cemara, pohon yang berdaun hijau, dan bambu, sehingga memunculkan kekuatan dari
masing-masing benda tersebut. Hal ini menunjukkan harapan dan keinginan untuk
hidup sehat dan panjang umur. Bukan hanya di rumah, tetapi hotel, departement
store, dan kantor-kantor juga memasang
Kadomatsu. Bahkan di sepanjang jalan agar memperlihatkan kebaikan di tahun
baru. Pada malam tahun baru atau yang
dikenal dengan istilah “Omisoka”, orang Jepang memiliki kebiasaan pergi ke kuil
untuk bersembahyang dengan mengenakan kimono (perempuan) dan hakama
(laki-laki). Nantinya mereka kemudian menyantap “Toshi koshi soba” (mie daging
rusa) sambil mendengarkan “Joya no kane” (lonceng tahun baru yang dibunyikan
sebanyak 108 kali sebagai pertanda 108 hawa nafsu yang ada dalam diri manusia
tersingkirkan.
Di hari-hari terakhir bulan Desember,
setiap orang mengucapkan “Yoi o toshi
wo” yang artinya “semoga tahun depan adalah tahun yang baik”. Sedangkan pada
tanggal 1 januari ucapan yang disampaikan adalah “Akemashite Omedetou
Gozaimasu” yang artinya “Selamat Tahun Baru”.
hatsumoude
Hari-hari di awal tahun baru ditandai dengan
“Hatsumoude” yaitu berupa kunjungan pertama ke kuil Shintou dan Budha untuk
berdoa dan mengunjungi bagian penjualan “Omamori” (jimat keberuntungan).
“Omikuji” (kertas yang berisi ramalan) yang ramalannya baik akan dibawa pulang
dan jika ramalannya jelek akan diikat di ranting pohon atau di tempat yang
disediakan.
Dan layaknya perayaan pada umumnya, pada
hari ini orang-orang makan makanan khas tahun baru berupa “Osechi ryouri” yaitu
berbagai jenis masakan yang disimpan di dalam kotak bertingkat yang disebut
“Juubako”. Osechi adalah sebutan untuk masakan istimewa yang dimakan di hari
tahun baru. Osechi dipilih karena warna keberuntungan, bentuk atau nama yang
menarik dengan harapan untuk mendapatkan keberuntungan dalam berbagai segi
kehidupan selama tahun baru. Sup zouni dan kuah dashi yang berisi mochi dan
sayuran merupakan salah satu masakan osechi. Minumannya disebut “Amasake” (sake
manis).
Acara menumbuk mochi yang disebut “Mochi
tsuki” merupakan salah satu tradisi menjelang tahun baru. Ketan yang sudah
ditanak, dimasukkan ke dalam lesung untuk kemudian ditumbuk dengan alu. Satu
orang bertugas menumbuk, sedangkan seorang lagi bertugas membolak-balik ketan
dengan tangan yang sudah dibasahi dengan air. Beras ketan ditumbuk hingga
lengket dan membentuk gumpalan besar mochi berwarna putih.
Selain itu, orang Jepang mempunyai tradisi
berkiriman kartu pos ucapan selamat tahun baru yang disebut “Nengajou” yang
tiba persis tanggal 1 Januari. Nengajou ini dijamin sampai ke alamat yang
dituju tepat tanggal 1 januari asalkan dikirim tidak melewati jangka waktu
penerimaan yang ditetapkan kantor pos. Penerimaan nengajou biasanya dimulai
pertengahan Desember hingga beberapa hari terakhir sebelum penutupan tahun.
Kantor pos membutuhkan pegawai ekstra yang direkrut dari kalangan pelajar, agar
semua kartu bisa disampaikan tanggal 1 Januari.
Sebagai penghormatan terhadap orang yang
meninggal, anggota keluarga yang baru ditinggalkan tidak merayakan tahun baru
dan tidak mengirim nengajou. Sebagai gantinya, anggota keluarga yang baru
ditimpa musibah mengirim kartu pos berisi pemberitahuan tidak bisa mengirim
kartu pos ucapan tahun baru.
Setiap tahunnya, kantor pos di Jepang memiliki
tradisi mencetak kartu pos dengan tema yang berbeda-beda. Kartu pos dihiasi
dengan lukisan tempat terkenal di Jepang dan gambar binatang shio untuk tahun
yang baru. Kartu pos yang diterbitkan kantor pos juga memiliki nomor undian
yang diundi di awal tahun. Penerima kartu pos yang beruntung bisa memenangkan
hadiah berupa barang.
Di Jepang, ada tim Special New Years Mail
atau Nen Gatoku Betsuyuubin yang diresmikan tahun 1899 di Era Meiji dan masih
ada sampai sekarang, walaupun tim ini sempat diskors sementara setelah Perang
Dunia II. Kurang lebih ada 4 juta kartu ucapan yang dikirim setiap awal tahun.
Akan tetapi, karena perkembangan jaman, kartu ucapan tahun baru biasanya
dikirim lewat internet.
Meski demikian, banyak orang Jepang yang
masih memilih untuk menggunakan kartu ucapan yang ditulis sendiri dengan
berbagai pesan dan ucapan. Gambar binatang atau kalimat ucapan standar bisa
ditambahkan dengan menggunakan stempel karet beraneka warna yang dijual di toko
buku atau stempel yang disediakan di kantor pos. Nengajou sering digunakan
untuk memamerkan kemampuan menulis indah bagi pengirim yang pandai menulis
kaligrafi.
otoshidama
Orang Jepang juga mempunyai tradisi
memberikan angpao yang dikenal dengan sebutan “Otoshidama”. Sewaktu memberikan
otoshidama untuk anak-anak, sejumlah uang kertas yang masih baru atau uang
logam dimasukkan ke amplop kecil bernama “Pochibukuro” yang berhiaskan aneka
gambar kesukaan anak-anak. Otoshidama sangat ditunggu-tunggu anak-anak di
Jepang, terutama bila memiliki paman atau bibi yang murah hati.
hanetsuki
Perayaan tahun baru juga dimeriahkan dengan
menulis aksara kanji pertama untuk tahun tersebut. Tradisi menulis aksara kanji
yang dilakukan tanggal 2 Januari disebut “Kakizome” yang artinya “kaligrafi
pertama”. Selain itu terdapat permainan
“fukuwarai” (meletakkan gambar-gambar wajah, seperti hidung, alis mata,
dan mulut pada tempat yang tepat dengan mata tertutup), “hanetsuki”
(bulutangkis tradisional), “takoage” (layang-layang), “karuta” (permainan
memungut kartu), dan sebagainya.
Penutupan perayaan tahun baru ditandai
dengan memakan bubur “Nanakusa” yang terbuat dari 7 jenis sayuran dan rumput. Bubur ini dimakan
tanggal 7 atau 15 Januari agar perut bisa beristirahat setelah dipenuhi makanan tahun baru.
Setsubun ( 節分 )
Setsubun adalah nama perayaan di Jepang
untuk hari sebelum hari pertama setiap pergantian musim. Dalam satu tahun
terdapat 4 kali hari pertama setiap musim (karena di Jepang ada 4 musim), yaitu
risshun, rikka, risshuu, dan rittou. Istilah setsubun sekarang hanya digunakan
untuk menyebut hari sebelum risshun, yang berlangsung sekitar tanggal 2 atau 3
Februari.
Sejarah setsubun ini adalah, pada jaman
kuno, perayaan setsubun adalah perayaan tahunan di istana kaisar. Berbagai
macam boneka dari tanah liat yang sudah diberi warna dipajang di berbagai pintu
gerbang dalam lingkungan istana. Boneka-boneka yang dibuat berbentuk seperti
anak-anak sapi.
Tradisi mengusir “Oni” (setan) di hari
setsubun konon berakar dari upacara Tsuina yang sudah dikenal sejak Jaman
Heian. Upacara Tsuina berasal dari daratan Tiongkok dan dilakukan di hari
terakhir dalam setahun menurut Kalender Tionghoa. Di jaman modern berbagai
tradisi kuno setsubun lenyap digantikan tradisi melempar kacang dan menegakkan
kepala ikan sardin yang ditusuk dengan ranting pohon hiiragi di pintu masuk
rumah pada saat senja di hari setsubun. Di beberapa daerah di Jepang, orang
menggantung kepala ikan sardin dan ranting pohon hiiragi di atas pintu rumah.
Tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oni (setan) yang dipercaya lahir pada
hari setsubun.
Tradisi lainnya yaitu tradisi melempar
kacang. Kacang kedelai yang sudah digongseng matang dilempar-lemparkan ke arah
oni. Tradisi melempar kacang merupakan perlambang keinginan bebas dari penyakit
dan sehat selalu sepanjang tahun. Oni yang terkena lemparan kacang konon akan
kabur karena kesakitan. Kacang kedelai nantinya juga dimakan setelah dihitung
jumlahnya agar sama dengan usia orang yang memakannya.
Setsubun merupakan perpaduan upacara mengusir
arwah jahat di istana yang berasal dari Tiongkok dengan upacara “Mamemaki”
(melempar kacang) yang bertujuan serupa di kuil Shinto dan Budha. Kacang yang
dilemparkan biasanya adalah kacang kedelai, tapi sering diganti dengan kacang
tanah sesuai dengan selera orang jaman sekarang.
Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucap
mantera “Oni wa soto! Fuku wa uchi!” yang artinya “Setan ke luar! Keberuntungan
ke dalam!”. Di beberapa daerah yang memiliki kuil dipercaya ditinggali oni,
mantera dibalik menjadi “Oni wa uchi! Fuku wa soto!” yang artinya “Setan ke
dalam! Keberuntungan ke luar!” atau kedua belah pihak diminta masuk ke dalam.
Di rumah yang ditinggali orang yang memiliki nama keluarga dengan aksara kanji
“Oni” (鬼=jin) seperti “Onizuka” atau “Kitou”,
mantera juga tidak mengusir oni untuk keluar.
Beberapa pekan menjelang hari setsubun,
toko-toko dan swalayan-swalayan mulai menjual kacang keberuntungan (fukumame)
di tempat khusus yang mudah dilihat pembeli. Kacang dijual dengan hadiah topeng
bergambar oni untuk dipakai ayah atau orang lain di rumah yang berperan sebagai
oni, sekaligus sasaran lemparan kacang anak-anak di rumah.
Di sekolah-sekolah dasar, dilakukan upacar
melempar kacang yang dilakukan siswa berusia 12 tahun karena memiliki shio yang
sama dengan shio tahun yang berjalan. Kuil Shinto dan Budha bekerjasama dengan
taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak untuk mengadakan upacara melempar
kacang oleh “Chigo” (anak-anak kecil yang dirias) dan “Miko” (pelayan wanita).
Kuil besar mengadakan upacara melempar kacang yang dilakukan atlet dan orang
terkenal. Bungkusan kacang dilempar ke tengah-tengah khalayak ramai untuk
ditangkap dan dipungut.
Di daerah Kansai, terdapat tradisi makan
sushi yang disebut “Ehoumaki” (sejenis futomaki yang belum dipotong-potong).
Sushi dimakan tanpa berhenti sambil menghadap ke arah mata angin tempat
bersemayamnya dewa keberuntungan untuk tahun tersebut. Sushi dipegang dengan
kedua belah tangan dan orang yang sedang makan dilarang berbicara sampai sushi habis
dimakan.
Ume Matsuri ( 梅 祭り
)
Ume Matsuri adalah salah satu festival di
antara banyak festival yang dilestarikan dengan baik di Jepang. Ume alias bunga
plum adalah salah satu flora maskot Jepang selain bunga sakura. Kalau sakura
menandai dimulainya musim semi, maka ume menjadi pertanda akhir musim dingin.
Meski belum pernah sampai mendengar istilah hanami yang diasosiasikan dengan
bunga selain sakura, ume tidak kalah populer dengan rekan senegaranya itu.
Buktinya, begitu musim ume mekar tiba sekitar bulan Februari sampai Maret,
digelar festival bunga plum di beberapa taman di seluruh Jepang.
Plum menjadi pertanda berakhirnya musim
dingin dan dimulainya musim semi. Semerbak keharuman bunganya hadir pada
Februari hingga Maret. Plum bersemi sebelum sakura. Pesonanya hampir sama
dengan sakura. Perbedaannya terletak pada warna dan benang sarinya. Bila sakura
dilihat dari jauh agak putih, begitu didekati ternyata merah muda. Sedangkan
ume jelas warnanya, ada yang merah, putih, juga merah muda.
Ume bukanlah tanaman asli Jepang. Bunga ini
berasal dari China yang dibawa ke Jepang beberapa abad silam. Kini ribuan plum
menyebar ke seluruh Negeri Matahari Terbit. Banyak kuil mengadakan persembahan
dengan menggelar acara khusus selama berjam-jam. Ini dilakukan sebagai bentuk
rasa syukur. Mereka juga tidak bosan menjaga pohon plum warisan nenek
moyangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar